BATU NISAN POLITIK AHOK

Nyanyian Rakyat Kecil

BATU NISAN POLITIK AHOK

Ahok meilih jalur independen

Menanggapi putusan Basuki Tjahaya Purnama Berpasangan dengan Heru Budi pada 2 hari yang lalu di kediamannya melalui jalur independen adalah hak pribadi Ahok dengan segala pertimbangan, waktu, situasi dan kondisi dinamika politik. Ini adalah sebuah keputusan yang sangat berani dan penuh pertimbangan matang.

Ahok harus mengumpulkan KTP dukungan dalam jumlah 750 ribu suara dan harus menyertakan dukungan pasangan calon sesuai dengan perintah Undang Undang. Keputusan ini tentu akan berdampak kepada partai politik yang sama-sama diberi ruang dalam menentukan pasangan kepala daerah. Partai-partai yang sudah melakukan pendekatan seperti Nasdem, Hanura serta PDIP akan merasa kecewa dengan langkah yang diambil oleh Ahok.

Memang Pilkada bukan memilih partai namun figur. Partai hanya bekerja sebagai mesin pemenangan disamping sebagai administrasi calon kepala daerah. Partai-partai merasa ditinggalkan dan tidak diajak untuk bersama sama membangun Jakarta. Walaupun langkah Ahok adalah resmi dilindungi oleh konstitusi maju melalui jalur independen. Siapa yang ditinggalkan dan siapa yang meninggalkan?

Tertutup sudah jalur komunikasi dan peluang partai untuk berpartisipasi dan berkontribusi terhadap pemenangan Ahok. Kepercayaan diri Ahok itu didukung oleh mesin relawan, mereka menyebut dirinya “Teman Ahok”, yang belum terbukti dapat bekerja di lapangan untuk memenangkan Ahok menjadi Orang Nomer Satu di DKI. Kerja mereka relawan baru sekedar mengumpulkan KTP sebagai tanda dukungan.

Lalu pertanyaannya apakah dukungan menyertakan KTP berbanding lurus dengan pemilihan saat di bilik pencoblosan?

dius

M. Radius Anwar (Dewan Pakar Bidang Sosial dan Politik ORKESTRA)

 Biaya politik dan konsekuensi

Katakan Ahok menghindari cost politic. Untuk maju dari jalur partai dan jalur independen pun keduanya punya konsekuensi risiko dimana persoalan suara itu menjadi cost politic, mulai dari awal hingga  pengawalan suara di KPUD DKI. Bisa dibilang dari bawah sampai atas, dari RT sampai kecamatan. Butuh biaya luar biasa.

Pertama, Teman Ahok ini sangat gegabah dan terburu-buru dan percaya diri dalam menghitung langkah kemenangan Ahok.  Terlalu percaya diri, dan terlihat terburu buru. Padahal yang namanya politik itu dinamis. Pertanyaannya apakah dengan batas waktu tertentu dapat terkumpul dan terealisasi? Jika tidak akan sangat fatal bagi Ahok.

Kedua, pemilih di Jakarta ada yang loyal minded kepada partai seperti PPP, Golkar. dan PDIP. Ketiga partai ini sangat mumpuni soal infrastruktur dan fundamental partainya hingga levla paling bawah.  Ini yang tak terpikirkan. Mereka sulit dirubah. Kalau toh mau berubah, mereka harus ada kompensasi. Entah kompensasi dalam bentuk apa.

Ketiga, masyarakat Jakarta sangat heterogen, pragmatis, serta dinamis. Tingkat prilakunya sangat cepat berubah. Dan keempat, melalui jalur independen setahu saya belum ada sejarah di Indonesia dimana kepala daerah setingkat gubernur maju dari jalur ini dan menang. Belum ada survey apalagi membuktikannya.

Oleh karena itu, menurut saya langkah Ahok dan Teman Ahok sangat anomali. Jika ia terlalu percaya diri maka bisa sangat merugikan dan membuat tak berdaya menghadapi gempuran bersatunya partai politik dalam upaya mengambil hati rakyat dan memenagkan calonnya melalui jalur partai. Saya tidak tahu apakah ini merupakah opsi terakhir Ahok dalam menentukan nasibnya sendiri (egosentris) atau dia akan dihabisi oleh kekuatan yang benar-benar kekuatan politik nyata dan ideologis? Kondisi ini seolah Ahok sedang menggali kuburnya untuk menggapai kemenangannya. Tanpa disadari saat, dia sedang membuat batu nisan politiknya sendiri.

Daalam konteks pembangunan kesejahteraan rakyat, saya pribadi tidak ingin terlibat dalam kepentingan apapun, dalam arti bahwa siapapun pemimpinnya, darimana pun asal partainya (termasuk yang independen), kalau punya niat mau membangun negeri ini dan benar-benar dapat menjadi pemimpin yang amanah dan mampu mensejahterakan rakyat, maka itulah pemimpin sejati idaman rakyat. Pemimpim yang layak dipilih oleh rakyat.

Salam Nyayian Rakyat Kecil!

Oleh,

Radius Anwar

Dewan Pakar Sosial dan Politik Organisasi Kesejahteraan Rakyat (ORKESTRA) Indonesia

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: