Organisasi Kesejahteraan Rakyat (ORKESTRA) yang Inklusif

Nyanyian Rakyat Kecil

Organisasi Kesejahteraan Rakyat (ORKESTRA) yang Inklusif

Hari ini kita memperingati Hari Disabilitas International yang secara rutin diperingati tiap Tanggal 3 Desember. Tulisan ini tidak bercerita tentang sejarah mulai diperingati namun lebih pada untuk mengingatkan kembali bahwa ada banyak diantara kita para penyandang disabilitas yang hidupnya tersingkir dan bagaimana sebuah organisasi seperti Organisasi Kesejahteraan Rakyat (ORKESTRA) bertransformasi menjadi organisasi yang inklusif.

Sementara itu, kita semua sadar bahwa nantinya kita pun menjadi orang yang berstatus penyadang disabilitas (people with disability) saat lanjut usia.

Menurut Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016, Penyandang Disabilitas adalah setiap orang yang mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental, dan/atau sensorik dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dapat mengalami hambatan dan kesulitan untuk berpartisipasi secara penuh dan efektif dengan warga negara lainnya berdasarkan kesamaan hak.

Bahwa kesamaan kesempatan adalah keadaan yang memberikan peluang dan/atau menyediakan akses kepada Penyandang Disabilitas untuk menyalurkan potensi dalam segala aspek penyelenggaraan negara dan masyarakat. Perlunya penghormatan dan sikap menghargai atau menerima keberadaan Penyandang Disabilitas dengan segala hak yang melekat tanpa berkurang.

Inclusive

Mendorong Inklusif untuk Semua

Ada beberapa isu penting yang sangat berpengaruh dalam mendorong inklusifisme dengan melalui pintu kelompok penyandang disabilitas. Pertama, aktor penyandang disabilitas dimana harus ada penyandang disabilitas (individu atau komunitas) yang dikuatkan untuk menembus dinding “pengabaian sosial”, baik di keluarga, masyarakat hingga institusi dimana dia berada. Disinilah pentingnya pengorganisasian penyandang disabilitas yang menjadi agen pendorong terwujudnya inklusi sosial. 

Kedua, penerimaan dan penghargaan bagi penyandang disabilitas dimana sejauh ini masih seringkali penyandang disabilitas menjadi obyek stigma yang berujung pada penolakan dan peminggiran secara sosial. Dengan demikian, membangun inklusi sosial juga harus mempertimbangkan penguatan perspektif serta penerimaan terhadap penyandang disabilitas.

Ketiga, isu keterlibatan dan partisipasi penyandang disabilitas sangat dibutuhkan karena hanya penyandang disabilitas yang memahami kebutuhan mereka. Dan Keempat, pelembagaan gagasan dimana penyandang disabilitas tidak lagi dilihat sebagai masalah, melainkan aset yang mempunyai nilai setara dengan non penyandang disabilitas. Regulasi dan instrumen kepengaturan lainnya mutlak dibutuhkan agar praktik inklusi sosial penyandang disabilitas menjadi sebuah kenyataan.

Mengapa Inklusif?

Kenyataan bahwa mayoritas semua warga, termasuk didalamnya kelompok rentan (anak, perempuan, penyandang disabilitas, pekerja migran, masyarakat adat, minoritas etnis, agama, dan orang dengan perbedaan orientasi seksual) masih mendapatkan stigma negatif dan peminggiran dimana mereka tinggal. Hanya di Indonesia bahwa penghargaan terhadap keberagaman yang ada dalam semboyan Bhineka Tunggal Ika sudah semestinya mendarah daging bagi setiap warga Indonesia. Soal Bhinneka Tunggal ika, Barack Obama sempat mengatakan: “Semangat negara ini adalah toleransi. Semangat itu adalah salah satu pembeda Indonesia, karakter penting yang harus dicontoh semua negara, Bhinneka Tunggal Ika

Bahwa inklusif dijamin oleh Pancasila, UUD 1945, Undang-undang Nomor 19 tahun 2011 Tentang Pengesahan ratifikasi Konvensi Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas, dan Undang-undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas

 Seputar gagasan dibangunnya ORKESTRA yang Inklusif

Bahwa penting sebuah organisasi massa memahami apa yang dimaksud dengan inklusif:

  1. Keberadaan nilai dominan masyarakat dalam memandang seorang/sekelompok orang merupakan bagian penting yang berpengaruh dalam menciptakan inklusi sosial
  2. Persepsi/pandangan yang mendasari sikap dan berdampak pada pola interaksi dan relasi sosial yang terbangun
  3. Kebijakan yang ada baik dari pengurus organisasi di pusat hingga daerah mendorong terwujudnya sebuah organisasi yang inklusif
  4. Kondisi geografis, demografi serta infrastruktur dan lingkungan sosial.


Strategi Rintisan ORKESTRA yang Inklusif

Pada penerapan gagasan agar inklusif, perlunya membangun perspektif pada internal pengelola organisasi agar berpihak pada kelompok rentan, khususnya pada penyandang disabilitas (karena memiliki kerentanan dalam mobilitas yang lebih).

Intervensi kepada pengurus Organisasi Kesejahteraan Rakyat (ORKESTRA) untuk mendorong pengarusutamaan inklusifitas dalam sebuah organiasi massa yang ramah penyandang disabilitas perlu didengungkan berulang dan dibangun. Hal ini juga perlu didorong bahwa sebuah organisasi harus mengedepankan pendekatan berbasis aset yang dapat diandalkan, termasuk penyandang disabilitas dan kelompok rentan lainnya, bukan lagi mereka sebagai beban.

Sebuah organisasi seperti ORKESTRA seharusnya turut memastikan pelaksanaan upaya penghormatan, pemajuan, pelindungan, dan pemenuhan hak Penyandang Disabilitas untuk mengembangkan diri serta mendayagunakan seluruh kemampuan sesuai bakat dan minat yang dimilikinya untuk menikmati, berperan serta berkontribusi secara optimal, aman, leluasa, dan bermartabat dalam segala aspek kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat.

Nah, selanjutnya mari kita bersama-sama turut mendorong organisasi yang kita cintai ini menjadi sebuah organisasi yang inklusif demi cita-cita untuk mensejahterakan rakyat semuanya.

Salam,

Trimo Pamudji Al Djono (Pengurus ORKESTRA Bidang Pembangunan Lingkungan Hidup dan Sosial)

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: