Survei ORKESTRA Munculkan “Gempa” Politik

Nyanyian Rakyat Kecil

Survei ORKESTRA Munculkan “Gempa” Politik

Survei ORKESTRA munculkan “gempa” politik

Oleh Ais

Persaingan di Pilpres 2019 kian eskalatif. Mendekati tahun politik di 2018, para kontestan melalui tim pemenangannya sibuk mempersiapkan diri, membidik segmen sambil memoles citra diri agar tampak mulus dan memikat hati. Meski demikian, mayoritas rakyat sudah memahami bhw kontestasi perlu dibekali dengan serangkaian bukti. Dan hasil survei bisa menjadi salah satu opsi.

Di tengah dominasi hasil survei yang ada, olah data survei nasional ORKESTRA sontak menghentak publik. Temuan surveinya dianggap jauh berbeda dari hasil lembaga survei lainnya Meski demikian hasil survei orkestra tampaknya lebih rasional secara kuantitatif mengingat basis hasil pemilu periode sebelumnya.

Untuk keterpilihan parpol, partai gerindra mengungguli parpol yang tengah berkuasa kini, PDIP. Sedangkan untuk elektabilitas capres, nama Prabowo terus menguntit jokowi secara sengit.

Jika Pemilu digelar 6 sd 20 Nov kemarin lalu, Partai Gerindra memperoleh raihan suara pemilih sebanyak 15,2%. Sementara, partai PDIP sebesar 12,5%. Sedangkan untuk hajatan pilpresn, Jokowi memiliki tingkat elektabilitas lebih tinggi sekitar 3% saja dari pesaingnya, Prabowo. Jokowi peroleh raihan suara 24,38% sedangkan Prabowo di 21,09%.

Survei yg dirilis di Minggu, 3 Des lalu, mengundang banyak pihak dengan beragam tanggapan yang kontradiktif maupun konfrontatif. Ekspektasi yang sesuai dan diluar harapan seolah “bergumul” untuk baku tepis guna menerima ataupun menolak hingga bahkan mencatatnya sebagai bagian evaluasi.

Fadli Zon misalnya, lebih mempercayai survei orkestra ketimbang lembaga survei tertentu (https://m.merdeka.com/peristiwa/ragukan-indo-barometer-fadli-zon-lebih-percaya-orkestra-yang-menangkan-gerindra.html). Fadli pun tetap optimis mengusung capresnya di pilpress nanti.

Lainlagi dengan Andreas Pareira, salah satu Ketua DPP PDIP, hasil survei orkestra yang mungkin diluar ekspektasinya, dianggap menjadi masukan untuk memotivasi pemerintah dan PDIP utk bekerja lebih ketas lagi bagi rakyat
(http://m.liputan6.com/news/read/3184033/hasil-survei-disalip-gerindra-ini-kata-ketua-dpp-pdip)

Pihak istanapun turut bergairah menanggapi hasil survei orkestra tersebut. Melalui Kepala Deputi Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi, Eko Sulistyo, menekankan agar tidak ada lagi kebijakan menteri yang menggerus elektabilitas jokowi. Eko ambil perhatian atas masih adanya publik yang menganggap jokowi belum memenuhi janji janji politiknya. Sisa tahun pemerintahan akan dikebut dengan program-program pro rakyat yg belum terealisir
(http://www.abadikini.com/read/merasa-tersaingi-dengan-elektabilitas-prabowo-jokowi-siapkan-pencitraan-di-2018/)

Dan yang tak kalah sengitnya, para pengamat politik juga berargumentasi dengan beragam analisis. (https://m.detik.com/news/berita/3753534/membandingkan-jokowi-vs-prabowo-di-dua-survei-berbeda) dan (http://m.republika.co.id/berita/nasional/politik/17/12/05/p0gyvk330-ini-dua-faktor-penyebab-gerindra-menyalip-pdip-di-survei)

Disadari atau tidak, Orkestra telah melahirkan hasil survei “emosional” bagi pemilik kepentingan politik. Para pihak yang pro maupun kontra dari hasil survei itu berebut simpati publik di atas surveinya.

ORKESTRA dengan hasil surveinya, telah menimbulkan “gempa” politik di kedalaman parpol dan pendukungnya dengan skala kejut-cemas, dan spektrum “panas” tingkat tinggi. Penyebabnya geliat lempeng ORKESTRA yang terus menggeser pusaran kekuasaan menuju kesejahteraan yang didambakan nantinya… Maju terus ORKESTRA! #nyanyian rakyat kecil

(antara bandung-cububur)

 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: