​Bantal Guling : Dari Presiden sampai Rakyat Jelata

Nyanyian Rakyat Kecil

​Bantal Guling : Dari Presiden sampai Rakyat Jelata

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Revolusi mulai dari kesadaran lahiriah

# Wahai orang yang beselimut (bantal guling) bangunlah di malam hari walau sebagian. Setengahnya atau kurang sedikit dari itu, juga pahamilah al qur’an (sebagai bacaan dan tulisan) secara seksama. Sungguh kami akan menghadirkan perkataan yang berharga kepadamu. Sungguh terjaga pada saat malam hari adalah waktu yang paling tepat serta paling utama untuk berkontemplasi (merenung). Sungguh kamu di saat siang hari mengurus berbagai kesibukan # (Al Muzzammil ; 1-7)

Selimut (Muzzammil) sebuah bagian dari kondisi tidur di malam hari. Selimut sebagai penghantar memasuki kondisi tak sadarkan diri/ tidak ingat (hilang kesadaran), yang dapat menumpulkan jiwa dan hati sebab dalam keadaan nyeyak itulah kesadaran terlelap. Artinya pesan ayat di atas adalah penting sekali untuk kesadaran dalam menjaga perhatianya kepada Sang Pencipta.

Ternyata di dalam asbab nuzhul surat itu persis ada kejadian sebelum Sang Pewarta (Nabi Muhammad) menerima pesan tentang al Muzzammil, bahwa di luar sana ada orang orang yang tidak suka dengan Muhammad, benci. Mereka hendak melekatkan predikat kepada Muhammad dengan sebutan ‘ dukun’, ‘tukang sihir’, dan ‘orang gila’. Predikat predikat itu adalah orang yang dianggap kesurupan tidak waras alias orang sedeng…maka turunlah surat Al Muzzammil yang bertepatan di tengah malam menbangunkan (menyadarkan) dirinya kehilang akalan dan keterlelapan. Bahwa orang orang yang terjaga sadar itu adalah orang orang yang sadar sehat lahir dan batin.

Radius 2

 

Personifikasi bantal dan guling

Selimut di dalam kebudayaan modern sebagai turunannya semakin banyak semakin kompleks, dari kasur, tempat tidur, AC, kipas angin, alat pijat dan tukang pijatnya, termasuk di dalamnya Bantal Guling, inilah alat peralatan yang paling modern yang sering kali memanjakan tubuh dan kesadaran kita di waktu malam. disamping kelelahan dari aktifitas siang hari yang padat. Belom lagi tekanan jiwa, psikis dalam hidup yang menghimpitnya. Ini semua semakin sulit membangunkan kesadaran akan sebuah perenungan yaitu ‘ apa arti dari kehidupan/ kesibukan di dunia yang tak pernah habis ini ?’. Kesadaran adalah sebuah ingatan akan kekekalan hidup di hari esok dan bangun di malam hari adalah cambuk sekaligus pengingat dari kenikmatan yang semu yang hanya sesaat.

Selimut hari ini telah semakin luas kehadirannya dalam wujud Bantal Guling. Tidak manusia modern sekarang ini yang tak berbantal dan berguling dalam kesehariannya, baik sebagai pemulung, pedang kaki lima sampai pada raja maupun kepala negara di kepala mereka selalu bersandarkan (alaskan) bantal atau berasalkan tangan dipipinya.

Bantal Guling seperti halnya selimut sebebarnya tidak bisa dihindari sebagai sebuah aktifitas tidur siapapun orang. Tak bisa menghelak dari pengantar tidur, penghilang kesadaraan sesaat dan semu. Namun peran bantal guling hanyalah peran ecek ecek di dalam kebudayaan kontemporer namun tanpa di sadari bantal guling telah menjadi teman yang paling intim dalam menghilanfkan kesadaran manusia dengan sangat sempurna dan sangat alami tanpa rekayasa hipnotis dan mantra. Bantal guling berfungsi sama digunakan dari kepala negara sampai dengan rakyat jelata.

Bantal guling sebagai objek tidaklah hina dan tidak diharamkan , ia di dalam surat al muzzammil hanya sebagai sebuah pengingat agar tidak ‘terlena’ sehingga jiwa dan kesadaran tidak jatuh dalam kenyamanan yang menina bobokan potensi kemanusiannya yang ‘par excelence’ (paripurna) yaitu kecerdasannya yang selalu terjaga dalam perenungannya di waktu malam sepi dan menyendiri.

Kesadaran spritual

Hal terkait kecerdasan dan spritualitas ini adalah suatu proses pencapaian potensi diri dan kemanusiaanya. Bisa dialami dan dijalankan oleh siapapun tanpa kecuali. Dari seorang presiden, tukang sapu, kuli bangunan dan para pemulung pun bisa mengalami dan merasakan pengalaman sensasi sebelum tidur. Oleh karena itu, dalam hal peningkatan ketakwaan, keimanan, dan kesadaran mau tidak mau harus melalui bantal guling yang akan mengingatkannya akan hari esok dan kelimpahan hidup setelah mati. Jiwa dan pikirannya melampaui ruang dan waktu jalan inilah jalan spritual sebuah jalan menuju kebahagian dan kekekalan hidup saat ini dan akan datang.

Dalam khasanah tradisi spiritual menahan dan terjaga di waktu malam itu adalah bagian dari sebuah latihan jiwa agar kesadarannya semakin meningkat.. Bantal Guling itu adalah halangan sekaligus tantangan bagi mereka yang mampu mengatasi lelap, sihir dan kehilangan akal sehat. Pesan dari Bantal Guling atau selimut itu sangat mengejutkan hati dan pikiran Nabi Muhammad, sehingga narasi tentang selimut itu diabadikan oleh Allah SWT melalui Jibril kepada Nabi Muhammad , yang sekarang kita kenal sebagai surat Al Muzzammil surat ke-37 yang terdiri dari 20 ayat itu.

Bantal Guling adalah tantangan bagi pemimpin masa depan..seperti halnya Nabi Muhammad ditantang oleh selimut.

Pondok Labu, 1 Januaru 2018

Oleh: Radius Anwar (Dewan Pakar Bidang Sosial, Budaya, dan Politik di ORKESTRA)

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: