Konservasi Lingkungan untuk Kesejahteraan Rakyat

Nyanyian Rakyat Kecil

Konservasi Lingkungan untuk Kesejahteraan Rakyat

Jakarta, 8/10/2018, Orkestra. Konservasi telah menjadi isu yang semakin penting dalam kehidupan masyarakat. Seiring waktu masyarakat semakin mengenal prinsip-prinsip konservasi dan isu konservasi selalu menarik untuk dikaji dan didiskusikan. Isu ini menarik jika dikaitkan dengan kepentingan dan kesejahteraan masyarat.

 

Indonesia saat ini masih memiliki kawasan hutan sekitar 110 juta hektar. Namun, akibat degradasi dan kerusakan jumlah tersebut menyusut menjadi kurang dari 100 juta hektar.

 

“Informasi-informasi terakhir sudah di bawah 100 juta hektar karena degradasi dan kerusakan. Sebanyak 65 persen hutan yang dimiliki merupakan hutan produksi, 23 persen hutan lindung, dan 21 persen hutan konservasi,” ujar Ir. Herry Subagiadi, M.Sc, Sekretaris Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, di Fakultas Biologi UGM, Senin (9/10) saat berlangsung Seminar Pengelolaan Sumber Daya Berbasis Konservasi SDA.

 

“Di kawasan hutan konservasi banyak sekali keterlanjuran dan salah satunya disebabkan masyarakat setempat atau ingin mencari kehidupan. Jadi, lebih karena faktor kemiskinan,” katanya.

Orkestra_mongabay

Belum lagi soal perburuan dan perdagangan tumbuhan dan satwa liar secara ilegal yang hingga kini masih berlangsung. Upaya-upaya pengendalian sesunguhnya telah diupayakan, namun tetap saja belum tuntas.

 

Sementara itu di tempat terpisah, “Kita semua tahu bahwa kekayaan sumber daya alam (SDA) di Indonesia sangat luar biasa, namun sayangnya sumber daya alam tidak dikelola dengan baik oleh pemerintah, baik pusat maupun daerah”, kata Trimo Pamudji, ST, M.Si, Ketua Bidang Lingkungan Hidup Organisasi Kesejahteraan Rakyat (Orkestra).

 

“Dampaknya ada terjadinya kerusakan lingkungan yang cukup parah di sebagian besar pulau di Kalimantan dan Sumatera, sementara itu di sebagian Papua sudah menunggu giliran untuk rusak akibat penebangan pohon untuk membuka lahan kelapa sawit”, lanjutnya disela-sela diskusi bersama rekan-rekan Orkestra saat Rakernas, 30 September 2018.

 

“Padahal di negara maju lainnya pembukaan perkebunan kelapa sawit sudah mulai ditinggalkan, bahkan cenderung memilih untuk meningkatkan upaya besar-besaran mengkonversi lahan tandus menjadi hijau kembali, menjadikan gerakan ecotourism bersama warga lokal”, kata Trimo.

 

Pada kesempatan lainnya dikatakan oleh Ir. Wiratno, M.Sc., Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem bahwa, “Ddalam setiap kegiatan kehutanan kita harus tahu posisi masyarakat ada dimana perannya”. Lebih lanjut dikatakan, “Masyarakat tidak boleh buta akan konservasi dan setiap permasalahan dengan masyarakat harus diselesaikan bersama-sama dengan masyarakat”.

 

Sesuai dengan prinsip konservasi yaitu: perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan secara lestari, maka masyarakat bisa memperoleh keuntungan yang menunjang kesejahteraan melalui pemanfaatan hutan, tumbuhan dan satwa liar secara lestari. Dalam pemanfaatan hutan, masyarakat bisa mengelola paket-paket wisata alam di dalam kawasan hutan seperti yang telah berjalan di Tangkahan, Sumatera Utara maupun di Kali Biru, Kabupaten Kulon Progo Yogyakarta.

 

Pada kesempatan lain, Rektor Universitas Mataram yang diwakili Prof. Dr. Agil Al Idrus menyampaikan penjelasan tentang peran perguruan tinggi dalam pengembangan ekowisata berbasis masyarakat, sedangkan Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi NTB, Ir. Madani Mukarom, BScF, M.Si. menjelaskan tentang pelibatan masyarakat dalam pengelolaan hutan.

 

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Tenggara Barat, Dr. Ir. Widada, M.M. pada kesempatan ini memberi paparan dan penjelasan tentang pengembangan ekowisata berbasis masyarakat di Taman Wisata Alam Gunung Tunak. Beliau menjelaskan bahwa saat ini BKSDA NTB bekerjasama dengan Pemerintah Korea sedang menyiapkan kapasitas masyarakat sekitar kawasan TWA Gunung Tunak dalam pengelolaan paket-paket wisata alam di TWA Gunung Tunak. BKSDA NTB juga memberi bantuan kepada masyarakat berupa peralatan kemah untuk membuka paket wisata berkemah di TWA Gunung Tunak.

 

Koordinator Pengendali Ekosistem Hutan BKSDA NTB, Tri Endang Wahyuni pada kesempatan ini juga menyampaikan tentang pemanfaatan tumbuhan dan satwa liar untuk kesejateraan masyarakat. Salah satu penjelasan dalam bidang ini adalah contok kasus keberhasilan penangkaran ikan arwana asia di Kalimantan Barat yang saat ini telah bisa menghasilkan omset sebesar 126 milyar dalam sebulan. Contoh lainnya berupa pemanfaatan satwa liar untuk peragaan di lembaga konservasi seperti taman safarai dan kebun binatang, dimana usaha tersebut telah memberi dampak yang luas kepada perekonomian masyarakat dengan berbagai peluang usaha yang bisa dilakukan oleh masyarakat sekitar lembaga konservasi.

 

Salam,

Admin Orkestra

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: